Taruhan Terakhir: Mempertaruhkan Segalanya demi Sebuah Mimpi

## Tarian Roulette: Saat Keberuntungan Berbisik di Telinga

Telinga berdenging, hiruk-pikuk kasino meredup menjadi dengungan samar. Mata terpaku pada roda kayu yang berputar, setiap putarannya seakan mengiris tipis dinding kesabaran. Bola kecil berwarna gading itu, seperti kunang-kunang yang terperangkap dalam pusaran badai, melompat-lompat liar di antara angka-angka hitam dan merah. Ini bukan sekadar permainan, ini adalah tarian roulette, di mana keberuntungan dan nasib berbisik lirih di telinga, menggoda dengan janji manis dan ancaman pahit.

Bau cerutu yang mahal bercampur dengan aroma parfum memabukkan, menciptakan aroma khas yang melekat erat pada ingatan. Di meja hijau yang terbentang luas, keping-keping taruhan bagai serpihan mimpi yang dilemparkan ke udara. Ada yang bertaruh dengan senyum pongah, penuh percaya diri, sementara yang lain menggigit bibir dengan gelisah, doa-doa lirih tak henti terucap.

Di sudut meja, seorang wanita paruh baya dengan gaun merah menyala menarik perhatian. Matanya yang teduh menyimpan sejuta kisah, kerutan di wajahnya adalah peta perjalanan hidup yang panjang dan berliku. Dengan jemari yang lentik, ia meletakkan satu keping kecil di atas angka 17, angka yang sama yang selalu ia pilih, angka yang menyimpan kenangan manis dan pahit sekaligus. Bagi wanita itu, ini bukan tentang menang atau kalah, melainkan tentang menghidupkan kembali secercah memori, tentang merasakan detak jantung yang berpacu kencang, tentang merasakan hidup yang masih berdenyut di usianya yang tak lagi muda.

Di seberangnya, seorang pemuda dengan tatapan mata tajam dan rahang yang kokoh, melemparkan segenggam keping taruhan dengan gerakan tangan yang cepat dan pasti. Ambisinya menggebu-gebu, dahaganya akan kemenangan tak terbendung. Ia bagai serigala muda yang lapar, siap menerkam mangsanya tanpa ampun. Taruhannya tinggi, risikonya besar, namun ia tak gentar. Keberuntungan, baginya, adalah permainan yang harus ditaklukkan, bukan sekadar ditunggu.

Roda kayu itu terus berputar, semakin lama semakin lambat, alunan suara gemerincingnya bagai alunan musik yang menegangkan. Bola gading itu melompat semakin lemah, lalu akhirnya jatuh dan berhenti di angka… 17.

Seisi ruangan hening sesaat, sebelum akhirnya gemuruh sorak sorai dan keluahan kecewa pecah bergantian. Wanita paruh baya itu tersenyum tipis, seolah-olah momen magis itu telah dinantikan selama bertahun-tahun. Ia tak peduli dengan keping-keping taruhan yang kini menumpuk di hadapannya, yang ia rasakan hanyalah kehangatan nostalgia yang membuncah dalam dada.

Tarian roulette telah usai, namun kisah-kisah di balik meja hijau itu terus berlanjut. Sebab di meja roulette, tak hanya keberuntungan yang dipertaruhkan, melainkan juga kepingan-kepingan hidup, dengan segala mimpi, harapan, dan penyesalannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *