Tangan yang Bergetar, Menggenggam Keberuntungan dan Kekecewaan (Trembling Hands, Grasping Fortune and Disappointment)

## Roulette: Kesenangan Sesaat, Kesedihan Sepanjang Umur

Roda berputar, bola kecil berwarna gading itu melompat-lompat di antara angka-angka yang terukir rapi. Detik-detik menegangkan, diiringi detak jantung yang semakin menggila. Matahari sore yang mulai condong tak mampu menembus masuk ke dalam ruangan remang-remang ini, hanya sorot lampu kristal yang menari-nari di permukaan meja hijau, memantulkan kilau harapan yang semu.

Di sana, di antara hiruk-pikuk para penjudi dengan tatapan mata yang kosong, duduklah seorang pemuda bernama Bayu. Wajahnya tampak lelah, namun sorot matanya menyiratkan kobaran api yang tak kunjung padam – api nafsu dan mimpi untuk meraih kemenangan besar dalam permainan roulette.

Awalnya, hanya untuk bersenang-senang, melipur lara setelah kehilangan pekerjaan. Namun, siapa sangka, putaran roda roulette itu justru menjadi candu. Setiap kemenangan, tak peduli seberapa kecil, bagai suntikan adrenalin yang memabukkan, menenggelamkannya dalam euforia semu yang menjanjikan pelarian dari kenyataan pahit.

Namun, roda kehidupan tak selamanya berputar sesuai keinginan. Kekalahan demi kekalahan datang silih berganti, menggerogoti pundi-pundi rupiah yang dimilikinya. Harta benda lenyap satu per satu, digadaikan demi memuaskan dahaga yang tak berkesudahan. Janji-janji manis untuk berhenti setelah mendapatkan kembali apa yang hilang, hanya tinggal janji.

Keluarga yang dulu menjadi tempatnya berpulang, kini menjauh, muak dengan segala janji palsu yang terlontar. Sahabat karib yang selalu ada, kini hanya tinggal kenangan, lelah mengulurkan tangan yang selalu disia-siakan. Bayu terjerembab dalam jurang kesendirian, terisolasi dalam dunia kelam yang diciptakannya sendiri.

Di suatu sore, saat mentari kembali enggan menampakkan diri, Bayu duduk termenung di tepi jalanan sepi. Tubuhnya kurus kering, pakaiannya lusuh dan kotor. Sorot matanya yang dulu penuh semangat, kini kehilangan binar, hanya menyisakan keputusasaan yang mendalam.

Di tangannya, tergenggam erat sebuah keping roulette, benda yang menjadi saksi bisu perjalanan hidupnya yang penuh liku. Sebuah ironi, benda kecil yang awalnya menjanjikan kesenangan dan kegembiraan, kini justru menjadi simbol penyesalan dan kehancuran.

Kisah Bayu hanyalah satu dari sekian banyak kisah pilu yang terukir di balik gemerlap dunia perjudian. Kesenangan sesaat yang ditawarkan, seringkali berujung pada kesedihan yang berkepanjangan.

Roulette, layaknya pusaran air yang menarik siapapun yang lengah ke dalamnya. Sekali terjebak, sulit untuk melepaskan diri, menenggelamkan mereka dalam lautan penyesalan yang tak bertepi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *