Di Meja Hijau, Mimpi Terukir di Atas Angka

## Dansa Roulette: Saat Kehidupan Menari di Ujung Pedang

Langit senja merona malu-malu, semburat jingga keemasan membalut cakrawala Jakarta. Di bawahnya, hiruk pikuk kota tak surut, bagai orkestra yang tak kenal lelah. Namun, di sebuah sudut remang, di balik pintu kayu tua yang usang, denyut kehidupan yang berbeda tengah berdetak.

Di sana, di bawah lampu temaram yang menyapa dengan ragu, terhampar arena yang dipagari deretan meja dan kursi kayu. Asap rokok menari-nari di udara, membentuk kabut tipis yang seakan enggan tersentuh angin malam. Aroma kopi pekat dan keringat bercampur baur, menciptakan aroma khas yang menyesak sekaligus memabukkan. Inilah “Dansa Roulette”, tempat kehidupan menari di ujung pedang.

Seorang pria berwajah lelah, dengan jejak kerut yang menceritakan kerasnya hidup, duduk di meja pojok. Matanya yang sayu menatap kosong ke arah meja roulette di tengah ruangan. Di hadapannya, tumpukan chip poker seakan menjadi simbol harapan yang rapuh. Ia adalah Bagas, seorang buruh pabrik yang terjebak dalam pusaran hutang dan janji manis para lintah darat.

Di meja roulette, bola kecil berwarna putih berputar liar, seakan menertawakan nasib manusia yang bertaruh di sekelilingnya. Sorak sorai dan umpatan kekalahan silih berganti, bagai irama kelam yang mengiringi dansa hidup dan mati. Di sini, di arena Dansa Roulette, batas antara harapan dan keputusasaan begitu tipis, setipis garis merah dan hitam yang membelah meja judi.

Seorang wanita muda, dengan gaun merah menyala yang kontras dengan suasana muram di sekitarnya, duduk anggun di samping Bagas. Senyum menggoda tersungging di bibirnya, namun sorot matanya menyimpan kepedihan yang mendalam. Ia adalah Laras, seorang mahasiswi yang terjerumus ke dunia kelam ini demi membiayai pengobatan ibunya yang sakit parah.

Dansa Roulette, bukan sekadar arena perjudian, melainkan panggung kehidupan bagi jiwa-jiwa yang tersudut. Di sini, mereka mempertaruhkan segalanya, harta, harga diri, bahkan asa yang tersisa, untuk sebuah kesempatan meraih mimpi yang kian menjauh.

Dentang lonceng kecil di atas meja roulette memecah keheningan. Bola putih itu akhirnya berhenti, menjatuhkan pilihan pada angka 13, angka sial bagi sebagian orang, namun bagi sebagian yang lain, mungkin saja angka keberuntungan.

Senyum mengembang di wajah Bagas, tumpukan chip poker di hadapannya berlipat ganda. Namun, di sudut matanya, Laras melihat kilatan lain, kilatan keputusasaan yang tersembunyi di balik topeng kemenangan. Ia tahu, dansa ini belum usai. Kehidupan, bagai bandar judi yang kejam, selalu punya cara untuk menagih hutang.

Malam semakin larut, Dansa Roulette terus berputar. Di balik pintu kayu tua itu, kisah-kisah pilu dan kepingan mimpi yang hancur terus terukir. Di bawah langit Jakarta yang kian kelam, kehidupan terus menari di ujung pedang, mempertaruhkan segalanya di meja roulette yang tak kenal ampun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *