Di Balik Tawa dan Tangis: Kisah-kisah Perjudian (Behind Laughter and Tears: Stories of Gambling)

## Hening Di Tengah Deru: Menunggu Jatuhan Bola di Meja Berputar

Ruangan itu berdengung. Bukan dengan kata-kata, melainkan dengan antisipasi. Di bawah cahaya temaram, siluet manusia berkerumun, mata mereka tajam tertuju pada sebuah titik pusat: meja kayu bundar yang berputar pelan. Di atasnya, sebuah bola kecil berwarna gading menari-nari, melompat, berputar, seolah mengejek dengan ketidakpastiannya.

Aroma cerutu menggantung di udara, pekat dan menyesakkan, bercampur dengan bau keringat dingin dan parfum murahan. Di sini, di ruang bawah tanah yang lembap ini, waktu terasa berjalan berbeda. Detik demi detik meregang, menit-menit merayap, sementara putaran roda keberuntungan terus bergulir.

Di sudut ruangan, seorang pria tua duduk dengan tenang. Wajahnya, yang diukir oleh waktu dan pengalaman, tak terbaca, seperti terbuat dari batu. Tangannya, berurat dan kapalan, menggenggam erat rosario kayu usang. Matanya yang dalam dan lelah, memantulkan cahaya redup dari lampu gantung kristal yang tampak tidak pada tempatnya di ruangan kumuh ini. Dia adalah Pak Tua, sesepuh tak terbantahkan di arena perjudian kecil ini.

Di seberangnya, seorang pemuda dengan gelisah menggigit kuku jarinya. Kemeja sutra mahal yang dikenakannya tak bisa menyembunyikan kegugupan yang terpancar dari setiap pori-pori kulitnya. Tumpukan chip berwarna-warni tergeletak di hadapannya, bukti nyata dari taruhan tinggi yang telah ia pasang. Masa depannya, atau setidaknya gambaran yang ia ciptakan di kepalanya, bergantung pada putaran bola kecil itu.

Hening. Deru roda semakin melambat. Bola gading itu melompat sekali lagi, dua kali, lalu berputar perlahan di tepi roda, menggoda, menyiksa. Jantung berdebar kencang, napas tertahan, doa dibisikkan dalam hati.

Di tengah hiruk-pikuk sunyi itu, terbersit sejenak koneksi tak terucapkan di antara para pemain. Sebuah pengakuan bersama tentang kerapuhan hidup, tentang tarikan memabukkan dari harapan dan keputusasaan. Mereka adalah pelaut di lautan nasib, terikat oleh arus yang sama, menunggu karam atau berlabuh di pulau keberuntungan.

Dan kemudian, dengan bunyi klik kecil yang nyaris tak terdengar, bola itu jatuh.

Sejenak, keheningan mutlak menyelimuti ruangan, seperti alam semesta sedang menahan napas. Kemudian, ledakan kegembiraan dan keputusasaan meletus bersamaan. Tawa dan kutukan, sorak sorai dan isak tangis, semuanya bercampur menjadi simfoni kacau dari emosi manusia yang mentah.

Pak Tua hanya tersenyum tipis, tatapannya tak tergoyahkan. Baginya, putaran roda hanyalah pengingat: di tengah deru kehidupan, satu-satunya kepastian adalah ketidakpastian itu sendiri. Dan di dalam ketidakpastian itu, terdapat keindahan yang pahit, sebuah kebenaran yang melampaui kemenangan dan kekalahan.

Roda berputar lagi. Permainan berlanjut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *