Di Balik Dinding Terang, Bisikan Kehilangan Merayap Perlahan

## Tangan Terguncang, Hati Berdebar: Saat Keberuntungan Menggoda

Ruangan itu pengap, aroma keringat dan harapan menggantung pekat di udara. Deretan punggung tegak di hadapanku, masing-masing menampung mimpi yang sama: menjinakkan Dewi Fortuna dan membawa pulang secercah kilau kehidupannya. Aku, hanyalah satu dari sekian banyak jiwa yang terjerat dalam pusaran harapan itu.

Tangan gemetar, menggenggam secarik kertas tipis. Angka-angka tercetak di atasnya, menari-nari liar di mataku. Setiap detik terasa seperti selam dalam palung samudra, menyesakkan dada. Sebuah nomor disebut. Napasku tercekat. Bukan milikku. Rasa lega membasuh, bercampur aduk dengan kekecewaan yang sulit didefinisikan.

Di sudut ruangan, seorang ibu tua duduk dengan sabar. Matanya yang keruh memancarkan harap, doa tanpa suara terpancar dari setiap kerutan di wajahnya. Di sampingnya, seorang pemuda dengan wajah tegang, tangannya meremas-remas topi lusuh. Mungkin ia sedang membayangkan masa depan yang lebih cerah, masa depan yang dijanjikan oleh secercah keberuntungan.

Tiba-tiba, dentang lonceng memecah kesunyian. Seorang pria paruh baya, dengan senyum lebar dan mata yang berbinar, melangkah maju. Ia menggenggam erat selembar kertas, seakan takut akan terbang terbawa angin. Keberuntungan, seperti kupu-kupu yang hinggap di ranting rapuh, telah memilihnya.

Tepuk tangan riuh memenuhi ruangan. Ada yang bersorak gembira, ada yang menghela napas kecewa. Namun, di balik hiruk pikuk itu, terbersit sebuah tanya di benakku: Apakah keberuntungan semata-mata soal angka dan peluang? Atau adakah ia sebuah anugerah yang datang pada mereka yang pantas dan siap menerimanya?

Aku tak punya jawaban. Yang kutahu, hidup adalah permadani rumit yang terjalin dari benang-benang harapan, perjuangan, dan ya, juga keberuntungan. Kadang kita mendapati diri tenggelam dalam lautan kecewa, kadang kita terdampar di pulau penuh suka cita. Namun, roda kehidupan terus berputar, membawa kita pada pelabuhan-pelabuhan baru yang tak terduga.

Meninggalkan ruangan itu, aku tak lagi merasakan tangan gemetar. Keberuntungan memang belum berpihak padaku hari ini. Tapi, kehidupan masih panjang, dan aku masih punya mimpi yang menanti untuk diwujudkan. Lagipula, bukankah keberuntungan sejati adalah ketika kita mampu mencintai setiap jengkal perjalanan hidup ini, baik saat tangan bergetar penuh harap, maupun saat hati berdebar penuh syukur?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *