Bisikan Angka Keberuntungan: Menafsirkan Bahasa Roda Roulette

## Di Bawah Lampu Neon: Mencari Cahaya di Tengah Kegelapan

Langit malam membentang pekat, ditelan cahaya artifisial yang tak henti menyerbu dari balik gedung-gedung menjulang. Di bawah pancaran lampu neon berpendar dingin, hiruk-pikuk kota tak pernah mati. Suara klakson bersahutan, deru mesin memecah sunyi, dan langkah kaki tergesa seakan mengejar sesuatu yang entah apa. Di tengah gemerlap yang menyesatkan, manusia berlalu-lalang, masing-masing membawa ceritanya sendiri.

Ada Rindu, seorang gadis dengan mata sayu yang tak pernah lepas dari layar ponselnya. Ia mencari pelukan hangat di dunia maya, menjajakan rindu yang tak tersampaikan pada kekasih yang entah di mana. Cahaya neon memantul pada air mukanya, memudarkan semburat merah muda yang dulu menghiasi pipinya. Senyumnya, kini hanya tinggal arsip usang di galeri handphone-nya.

Di seberang jalan, duduk Pak Tua penjual kopi keliling dengan tatapan kosong. Dulu, matanya berbinar penuh semangat, menjajakan mimpi di balik setiap gelas kopi pahit yang ia sajikan. Kini, mimpi itu telah lama padam, tergerus kerasnya realita. Hanya lampu neon yang setia menemani, menjadi saksi bisu perjuangannya melawan lelah dan keputusasaan.

Di sudut jalan, sekelompok anak muda tertawa lepas. Mereka bercanda, bernyanyi, seakan dunia ini panggung pertunjukan mereka sendiri. Cahaya neon mewarnai rambut mereka dengan warna-warni terang, membungkus mereka dalam ilusi kebahagiaan semu. Namun di balik tawa riang itu, terselip sebersit kekosongan, sebuah pencarian jati diri yang tersesat di antara hingar bingar kota.

Di bawah lampu neon, kota ini seperti lautan manusia yang kesepian. Masing-masing terisolasi dalam dunianya sendiri, tenggelam dalam pusaran rutinitas yang menjemukan. Kegelapan mencengkeram erat, menggerogoti asa yang tersisa.

Namun, di tengah kegelapan yang mencekam, selalu ada setitik cahaya yang menanti untuk ditemukan. Cahaya itu mungkin redup, tersembunyi di balik tembok-tembok kokoh dan hati yang membeku. Ia mungkin berupa uluran tangan seorang sahabat, pelukan hangat keluarga, atau bahkan sekedar senyuman tulus dari orang asing.

Seperti kunang-kunang yang tegar memancarkan sinarnya di tengah gelapnya malam, manusia pun ditakdirkan untuk menemukan cahaya dalam dirinya. Cahaya yang tak padam diterpa angin, tak luntur terguyur hujan. Cahaya yang berasal dari dalam, dari ketulusan hati dan ketegaran jiwa.

Maka, berjalanlah terus di bawah lampu neon yang dingin ini. Carilah cahaya yang hilang, rangkullah mereka yang tersesat dalam gelap. Sebab di tengah hiruk-pikuk kota yang menyesatkan, hanya dengan saling berbagi cahaya, kita dapat menemukan jalan pulang, menuju kehangatan sejati yang tak lekang oleh waktu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *