Antara Nol dan Keabadian: Perjudian Jiwa di Meja Roulette

## Kicauan Burung di Arena Roulette: Sebuah Simfoni tentang Kebebasan

Asap mengepul dari pipa-pipa cerobong yang menjulang, menodai langit senja kota London dengan warna kelabu. Bau arang dan embun sungai yang anyir menyatu, menciptakan aroma khas yang hanya bisa ditemukan di jantung kota yang tak pernah tidur ini. Di balik pintu kayu ek yang kokoh, di sebuah ruangan remang-remang yang diterangi lampu kristal yang mewah, terdengar gemuruh percakapan yang diselingi dentingan koin dan sorak sorai penuh harap. Ini adalah “The Golden Wheel”, arena roulette paling tersohor di seantero kota.

Di antara para pria berjas beludru dan wanita dengan gaun sutra yang berkilauan, duduklah seorang pemuda dengan tatapan kosong. Namanya Arthur, seorang penulis muda berbakat yang terjebak dalam pusaran judi. Mimpi-mimpinya yang dulu penuh warna kini pudar, tergantikan oleh obsesi untuk menaklukkan roda roulette yang kejam.

Setiap putaran roda bagaikan ayunan pendulum yang mengombang-ambingkan harapan dan keputusasaan di dalam dadanya. Derit putaran roda, pantulan bola kecil yang tak terduga, semua itu menjelma menjadi simfoni kekacauan yang menghipnotisnya. Ia terjerat, bagai serangga kecil yang terperangkap dalam jaring laba-laba yang rumit.

Namun, di tengah hiruk-pikuk arena yang menyesakkan itu, Arthur mendengar sebuah suara. Suara yang asing namun menenangkan, suara yang membawanya menjauh dari meja judi dan hiruk-pikuk manusia. Itu adalah kicauan burung, merdu dan penuh semangat, yang entah bagaimana bisa menembus dinding-dinding tebal dan hingar-bingar arena.

Ia menoleh, mencari sumber suara itu. Matanya tertuju pada sebuah sangkar burung kecil yang tergantung di dekat jendela. Di dalamnya, seekor burung robin kecil melompat-lompat dengan lincah, sesekali berkicau riang.

Arthur merasakan sesuatu berdesir di hatinya. Kebebasan. Burung kecil itu, meskipun terkurung dalam sangkar, tetap bernyanyi. Ia tak terpengaruh oleh keputusasaan dan keserakahan yang menyelimuti ruangan itu. Ia bebas.

Kicauan burung itu bagaikan sebuah panggilan, sebuah peringatan halus. Arthur menyadari bahwa ia, sama seperti para penjudi lainnya, telah terpenjara oleh obsesinya sendiri. Mereka, bagai burung-burung dalam sangkar tak kasat mata, terperangkap dalam lingkaran setan harapan dan keputusasaan yang diciptakan oleh roda roulette.

Tanpa sadar, Arthur bangkit dari kursinya. Ia berjalan menuju jendela, merasakan udara malam yang dingin menerpa wajahnya. Di kejauhan, di balik lautan genteng dan cerobong asap, terlihat semburat jingga fajar yang mulai menyingsing.

Kicauan burung itu kini terdengar semakin jelas, bagaikan sebuah simfoni tentang kebebasan yang menggema di telinganya. Arthur memejamkan mata, menghirup udara segar dalam-dalam. Ia tahu apa yang harus ia lakukan.

Arthur meninggalkan “The Golden Wheel” dengan langkah yang lebih ringan. Ia meninggalkan roda roulette, koin-koin emas, dan mimpi-mimpi semu di belakang. Di tangannya, ia membawa pena dan buku catatan, siap untuk menuliskan kembali kisah hidupnya, sebuah kisah yang diiringi oleh simfoni kebebasan dari seekor burung kecil di dalam sangkar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *